Minggu, 05 April 2020

KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU
TUGAS AGAMA
____________________________________________________________________________________
1. Hukum Tajwid Q.S At-Taubah/9:122
Lafal Ayat dan Artinya
وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ  Artinya: "Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya."
 Hukum Tajwid
Lafal
Hukum Tajwid
Alasan

وَمَا


Mad asli atau Mad Thabi’i
Karena huruf mim berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.


كَانَ





Mad asli atau Mad Thabi’i
Karena huruf kaf berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.


الْمُؤْ

Alif lam qamariyah
Karena huruf alif lam bertemu huruf mim. Dibaca secara jelas.


مِنُوْنَ

Mad asli atau Mad Thabi’i
Karena huruf nun berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.




لِيَنْفِرُوْا


Ikhfa
Karena huruf nun sukun bertemu huruf fa'. Cara membacanya samar dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat. Pada waktu mengucapkan huruf nun mati, sikap lidah dan bibir dipersiapkan menempati huruf fa'.


لِيَنْفِرُوْا

Mad asli atau Mad Thabi’i
Karena huruf ra berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.



كَآفَّةً

Mad lazim kilmi mutsaqqal
Karena huruf mad bertemu dengan huruf bertasydid dalam satu kata. Cara membacanya panjang 6 harakat. 


كَآفَّةً فَلَوْ


Ikhfa
Karena huruf ta berharakat fathah tanwin bertemu huruf fa'. Cara membacanya samar dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat. Pada waktu mengucapkan huruf nun mati, sikap lidah dan bibir dipersiapkan menempati huruf fa'. Tetapi, kalau di waqaf maka tidak berlaku hukum ini.


فَلَوْ

Mad lin
Karena huruf wau sukun didahului oleh huruf lam berharakat fathah. Dibaca panjang 2 harakat.

لأ

Mad asli atau Mad Thabi’i
Karena huruf lam berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.


كُلِّ

Ikhfa
Karena huruf nun sukun bertemu huruf kaf. Cara membacanya samar dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat. Cara pengucapan seperti bunyi "ng".


فِرْقَةٍ  

Idgham bighunnah
Karena huruf ta berharakat kasrah tanwin bertemu huruf mim. Dibaca masuk dengan dengung dan ditahan sampai 3 harakat.

مِّنْهُمْ

 Idzhar
Karena huruf nun sukun bertemu huruf ha. Dibaca jelas tidak berdengung sama sekali.

مِّنْهُمْ 

Idzhar syafawi
Karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf tha. Cara membacanya dengan jelas.

طَآ

Mad wajib muttashil
Karena huruf mad bertemu hamzah dalam satu kata. Dibaca panjang 4 atau 5 harakat.

ئِفَةٌ لِّيَو

Idgham bilaghunnah
Karena huruf ta' berharakat dhamah tanwin bertemu huruf lam tasydid. Dibaca lebur tanpa dengung. Bunyi tanwin hilang.

لِّيَتَفَقَّ

Mad asli atau Mad Thabi’i
Karena huruf ha berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.


ٱلدِّينِ

Alif lam syamsiyah
Karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah dal. Dibaca idgham (masuk ke huruf dal ).

ٱلدِّينِ

Mad asli atau Mad Thabi’i
Karena huruf dal berharakat kasrah bertemu ya' sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.


وَلِيُنذِ


Ikhfa
Karena huruf nun sukun bertemu huruf dzal. Cara membacanya samar dengan dengung dan ditahan selama 3 harakat. Pada waktu mengucapkan huruf nun mati, sikap lidah dan bibir dipersiapkan menempati huruf dzal.


رُوا۟

Mad asli atau Mad Thabi’i
Karena huruf ra berharakat dhamah bertemu wau sukun dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.


قَوْ

Mad lin
Karena huruf wau sukun didahului oleh huruf qaf berharakat fathah. Dibaca panjang 2 harakat.

 مَهُمْ إِذَا

Idzhar syafawi
Karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf hamzah. Cara membacanya dengan jelas.

إِذَا

Mad asli atau Mad Thabi’i
Karena huruf dzal berharakat fathah bertemu alif dan setelahnya tidak bertemu hamzah, sukun, waqaf, dan tasydid. Cara membacanya panjang 2 harakat.


رَجَعُوٓا۟

Mad jaiz munfasil
Karena huruf mad bertemu hamzah di lain kata. Dibaca panjang 2/ 4 atau 5 harakat.


إِلَيْهِمْ

Mad lin
Karena huruf ya' sukun didahului oleh huruf lam berharakat fathah. Dibaca panjang 2 harakat.

إِلَيْهِمْ لَ 

Idzhar syafawi
Karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf lam. Cara membacanya dengan jelas.

لَعَلَّهُمْ  

Idzhar syafawi
Karena huruf mim sukun bertemu dengan huruf ya'. Cara membacanya dengan jelas.

يَحْذَرُ

Mad arid lissukun
Karena huruf mad jatuh sebelum huruf yang diwaqaf. Cara membacanya dengan dipanjangkan 2 sampai 6 harakat.


2. Mengapa orang yang berilmu diangkat derajatnya
    Orang yang beriman dan berilmu sudah tentu akan dihormati oleh orang lain, diberi kepercayaan untuk mengendalikan atau mengelola apa saja yang terjadi dalam kehidupan ini. Ini berarti tingkatan orang yang beriman dan berilmu lebih tinggi dibanding orang yang tidak berilmu.
Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Mujadalah ayah 11. Didalam surat tersebut Allah SWT. menjelaskan bahwa orang yang  beriman dan berilmu akan memperoleh kedudukan yang tinggi.
Menurut Imam Safi'ie ilmu itu bagaikan binatang buruan, sedangkan pena adalah pengikatnya, maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Alangkah bodohnya jika kamu mendapatkan kijang (binatang buruan) namun kamu tidak mengikatnya hingga akhirnya binatang buruan itu lepas di tengah-tengah manusia.
Akan tetapi, perlu diingat bahwa orang yang beriman, tetapi tidak berilmu, dia akan lemah. Begitu juga sebaliknya, orang yang berilmu, tetapi tidak beriman, ia akan tersesat karena ilmu yang dimiliki bisa jadi tidak untuk kebaikan bersama.
3. Tujuan orang menuntut ilmu
  1. Untuk megobati rasa penasaran akan suatu hal yang sebelumnya belum dimengerti.
  1. Untuk mendapatkan ridha dari Allah SWT.
  1. Agar bisa menjadi sukses dunia dan akhirat.
  1. Mengetahui cara mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah SWT.
  1. Bermanfaat bagi banyak orang.
  1. Agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang dalam agama.
  1. Supaya mampu menyelesaikan berbagai macam permasalahan dalam kehidupan. 
  1. Meninggikan derajat manusia.
  1. Agar mendapat limpahan Pahala dari Allah SWT
  1. Amalan yang Tidak Akan Terputus
Hendaklah seseorang mempelajari dan mendalami ilmu agama dengan niat yang ikhlas dan untuk menghilangkan kekurangan dan kebodohan pada dirinya.Allah SWT memberitahukan bahwa Dia mengeluakan kita dari perut ibu dalam keadaan bodoh.Allah berfirman”Dan Allah  telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” (An Nahl: 78)Seorang penyair bertutur ”Ilmu mengangkat rumah yang tidak bertiang dan kebodohan merusak rumah yang kokoh dan tinggi.” Oleh karena itu hendaklah kita meluruskan niat dalam belajar sehingga Allah SWT berkenan untuk mengangkat derajat kita.Seorang yang belajar agama atau menuntut ilmu, seharusnya tidak menjadikan ilmu hanya sebagai tujuan, namun ilmu merupakan wasilah atau sarana untuk beramal saleh baik dalam aqidah, ibadah, akhlak, adab atau muamalah.Seseorang yang memiliki ilmu seperti seseorang yang membawa senjata, karena hal itu bisa bermanfaat baginya atau justru bisa membahayakan dirinya.Nabi Muhammad SAW bersabda ”Al Qur’an itu hujjah (argumen) bagimu atau atasmu.” [HR. Muslim]Dengan demikian ilmu tentang Al Qur’an dan As Sunnah adalah ilmu yang memiliki keutamaan yang agung, di mana pemiliknya beramal atasnya dengan pemahaman yang benar, sehingga Allah SWT mengangkat derajat dan memuliakannya.4. Mengapa harus menuntut ilmu
Menuntut ilmu merupakan kewajiban yang mutlak bagi setiap orang islam. Menuntut ilmu termasuk bukti ketakwaan seseorang kepada Allah SWT, karena mematuhi perintahnya. Selain itu, menuntut ilmu termasuk ibadah , mempelajarinya dengan berulang-ulang termasuk tasbih, dan mengkajinya termasuk jihad atau berjalan di jalan Allah.
Imam Syafii pernah berkata, “Jika kamu tidak dapat menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan,” ungkapan masyhur tersebut seolah selalu mengingatkan kita, bahwa belajar itu harus dilakukan dengan penuh kesabaran menghadapi berbagai tantangannya. Imam syafi’i juga mengingatkan bahwa bahwa jika kita lelah mencari ilmu, kebodohan akan menjadi konsekuensinya. Dan pelakunya harus menanggung keperihan luar biasa dalam hidupnya yakni bahaya kebodohan dalam islam
Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan hambaNya untuk senantiasa menuntut ilmu. Allah berfirman, “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi ke medan perang, mengapa sebagian di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah :122)
Kemudian ada sebuah hadist yang diriwayatkan dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah shalallahi alahi wa sallam bersabda, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara, atau emas.” (HR.Ibnu Majah). Rasulullah pun bersabda, ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan.” (HR. Ibnu Abdil Barr).
Didalam Al-Qur'an dan hadist Rasulullah saw terdapat lebih banyak  penjelasan yang menjelaskan tetang kewajiban belajar, baik kewajiban tersebut ditujukan kepada laki-laki maupun perempuan. Bahkan wahyu pertama yang diterima Nabi saw. adalah perintah untuk membaca atau belajar yaitu dalam surah al alaq ayat 1-5 :اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.Dia telah menciptakan manusia dari 'Alaq.Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah.Yang mengajar manusia dengan pena.Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.
5. Apa itu ilmu yang bermanfaat
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diajarkan kepada orang lain, ilmu yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, ilmu yang membuat pemiliknya semakin merunduk ketika ilmunya semakin bertambah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu adalah apa yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallamTerkadang ada ilmu yang tidak berasal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tetapi dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu pertanian, dan ilmu perdagangan.”
Imam Ibnu Rajab (wafat th. 795 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu yang bermanfaat menunjukkan pada dua hal. Pertama, mengenal Allah Ta’ala dan segala apa yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan-perbuatan yang agung. Hal ini mengharuskan adanya pengagungan, rasa takut, cinta, harap, dan tawakkal kepada Allah serta ridha terhadap takdir dan sabar atas segala musibah yang Allah Ta’ala berikan. Kedua, mengetahui segala apa yang diridhai dan dicintai Allah ‘Azza wa Jalla dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya berupa keyakinan, perbuatan yang lahir dan bathin serta ucapan. Hal ini mengharuskan orang yang mengetahuinya untuk bersegera melakukan segala apa yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu itu menghasilkan hal ini bagi pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat. Kapan saja ilmu itu bermanfaat dan menancap di dalam hati, maka sungguh, hati itu akan merasa khusyu’, takut, tunduk, mencintai dan mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla, jiwa merasa cukup dan puas dengan sedikit yang halal dari dunia dan merasa kenyang dengannya sehingga hal itu menjadikannya qana’ah dan zuhud di dunia.”